Anggur penuh Hikmah

Ada satu suku pedalaman yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang bijaksana. Bapak kepala suku tak hanya memimpin sukunya namun juga sering memberikan bimbingan kebenaran yang nyata.

Pada suatu hari yang indah bapak kepala suku mengumpulkan semua kepala keluarga yang mewakili keluarga masing-masing. Semua diundang ke rumah kepala suku untuk makan bersama. Satu yang istimewa, kepala suku berpesan kepada setiap undangan untuk masing-masing membawa segelas anggur. Semua anggur ini akan dituangkan ke dalam sebuah kendi besar, nanti akan diminum bersama.

Sampai pada waktu yang ditetapkan, setiap undangan pun hadir mewakili keluarga masing-masing dengan membawa segelas anggur. Begitu tiba di halaman rumah kepala suku, sudah terlihat sebuah kendi yang disiapkan untuk menampung anggur yang dibawa para undangan. Dengan tertib setiap yang hadir datang menuangkan anggur yang dibawanya baru kemudian masuk ke dalam rumah dan makan bersama. Selesai makan, kepala suku mempersilakan para undangan minum anggur yang diambil dari kendi di halaman tadi.

Satu per satu mereka minum, begitu minum semua menampakkan wajah yang resah penuh tanda tanya. Apa yang terjadi? Sampai ke dalam rumah, kepala suku bertanya,”Enakkah anggur yang diminum tadi?” Seorang yang lugu segera menjawab,”Oh, kepala suku, tadi yang saya minum bukan anggur melainkan air putih”. Mengapa jadi demikian? Ternyata semua yang hadir dalam hati berpikir, “Saya bawa segelas air putih saja, toh nanti dituang dan dicampur dengan anggur yang dibawa orang lain. Tentu takkan ada yang tahu kalau saya bawa segelas air putih. Ini takkan mempengaruhi rasa anggur dalam kendi.”

Semua punya pikiran yang sama dan melakukan hal yang sama. Apa yang terjadi? Ya, semua minum air putih, bukan anggur yang lezat. Inilah bimbingan tak terlupakan dari kepala suku. Kita sering beranggapan, saya sendiri berbuat begitu toh tak ada yang tahu, toh tak memperngaruhi yang lain. Padahal tak ada seorang pun yang tidak penting di dunia ini. Tak ada satu pun yang tidak mempengaruhi yang lain. Keluarga, masyarakat, dan dunia terbentuk karena ada saya, kamu, dia, dan mereka. Pepatah dulu menyampaikan”Jangan karena menganggap kebaikan itu kecil maka tak dilakukan. Jangan karena menganggap kejahatan itu kecil maka dilakukan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: